Wednesday, September 12, 2018

Sport Development Index (SDI) / Indeks Pembangunan Olahraga (IPO)

      Sport Development Index (SDI) adalah indeks gabungan yang mencerminkan Keberhasilan Pembanguna olahraga berdasarkan empat dimensi dasar, yaitu : (1) ruang terbuka yang tersedia untuk olahraga, (2) Sumber Daya Manusia (SDM) atau tenaga keolahragaan yang terlibat dalam kegiatan olahraga, (3) partisipasi warga masyarakat untuk melakukan olahraga secara teratur dan (4) derazat kebugaran jasmani yang dicapai oleh masyarakat (Toho Cholik Mutohir dan Ali Maksum, 2007:2).
       Gagasan untuk mengukur kemajuan pembangunan olahraga dalam konsep SDI pertama kali dituangkan dalam tulisan berupa artikel disebuah publikasi bernama FORUM OLAHRAGA edisi nomor IX oleh  Toho Cholik Mutohir dan Ali Maksum bersama kolega untuk mengkaji sejumlah indikator pembanguna olahraga. dari dimensi tersebut ditemukan empat dimensi dasar yang dikemukakan pada awal paragraf.
      sekaitan dengan empat dimensi tersebut tentu pada konsep manajemen terdapat input, proses dan output. dalam dimensi SDI tersebut prasarat dasarnya(input) yaitu Ruang Terbuka dan Sumber Daya manusia sedngkan prasyarat aksi (proses) yaitu Partisipasi dan Prasarat Keluaran (output) yaitu Kebugaran Jasmani. 

Sumber : Toho Cholik Mutohir dan Ali Maksum (2007). Sport Development Index, Jakarta:INDEKS




Friday, October 28, 2016

Friday, March 4, 2016

Sistem Olahraga Jerman

sumber foto : id.wikipedia.org


Masuknya sistem olahraga jerman ke Indonesia diperkirakan ketika belanda sedang berkuasa di Indonesia, nanamun sistem ini mula-mula di terapkan oleh Belanda hanya dikalangan militer saja akan tetapi pada  giliranya masuk pula di sekolah-sekolah dan masayarakat Indonesia.
Johan Friedrich Guts Muhts (1759-1835) adalah orang yang menciptakan olahraga sistem Jerman pada abad ke-19 di negeri belanda, dan dalam perkembangan berikutnya sistem Jerman yang dikembangkan oleh Jahn, Spiess dan Maul ke Negeri yang terkenal dengan sebutan Negeri Kincir angin tersebut. sebagai peletak dasar sistem Jerman, Guts Muhts membagi olahraga secara general. Menurutnya ada tiga kaidah penting yang harus diperhatikan, yaitu : (1) senam harus menyempurnakan peredaran darah dan memperkuat otot-otot dan syaraf-syaraf; (2) senam harus memiliki faktor atau elemen kesukaran; (3) senam harus menambah keberanian dan ketangkasan batin.
           Dari kaidah-kaidah tersebut latihan-latihan olahraga sistem Jerman harus menantang dan mengandung bahaya. bentuk-bentuk latihan gerak dasar menurut Guts Muhts terdiri atas melompat, berlari, melempar, gulat, memanjat, keseimbangan, bermain tali, berenang, dan latihan panca indra. salah satu karyanya yang terkenal adalah sebuah buku yang berjudul Gymnastic fur die juged. buku ini secara khusus mengkaji tentang permainan. menurutnya, secara garis besar permainan mempunyai tiga fungsi utama yaitu : (1) fungsi rekreasi karena selesai berlatih; (2) menambah kegembiraan, kesehatan dan memperkembangkan sifat-sifat sisial; (3) memberikan kesempatan bagi guru untuk mengenal murid-muridnya secara lebih dekat untuk menciptakan suasana persaudaraan antara guru dan murid.


sumber : sejarah dan filsafat olahraga oleh Prof.Dr.H.J.S. Husdarta, M.Pd.

Friday, February 26, 2016

Sejarah Olahraga Di Indonesia

sumber foto : kabarkami.com

     Sejarah dapat mengajarkan setiap orang untuk memahami masa lalu dan menghubungkanya dengan masa kini dan masa depan. dari masa lalu seseorang dapat memahami konteks kekinian dan meramalkan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. perkembangan olahraga dalam presfektif sejarah mempunyai arti dan nilai karena berada dalam konteks semua aspek kehidupan sosial seperti politik, ekonomi, agama, sosial, pendidikan dan kebudayaan.
      Perkembangan olahraga di Indonesia dalam sudut pandang sejarah merupakan bagian integral dari kebudayaan manusia,  juga merupakan bagian dari hidup manusia, menurut sejarah, kita ketahui bahwa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa Asing, yang paling lama oleh bangsa Belanda, maka olahraga bangsa Indonesia secara langsung dipengaruhi oleh bangsa Belanda khususnya sekaligus Eropa secara umum, sebab pada saat yang bersamaan bangsa belanda menerima banyak pengaruh dari negara-negara di Eropa secara umum seperti Jerman, Swedia, dan Austria. karena itu sistem olahraga dari negara-negara Eropa secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan olahraga di Indonesia.
      Menurut sejarah Indonesia mengalami penjajahan oleh negara Belanda selanjutnya oleh negara Jepang, pada masa itu terdapat perbedaan dalam perkembangan olahraganya, pada saat zaman Jepang perkembangan olahraga dilaksanakan melalui paksaan, akan tetapi terdapat makna yang terpenting dari perkembangan olahraga zaman penjajahan jepang karena mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam memperkuat atau mengokohkan persatuan dan kesatuan bangsa secara menyeluruh.

sumber : Sejarah dan Filsafat Olahraga oleh Prof.H.J.S Husdarta, M.Pd. 

Sunday, December 2, 2012

GERAK Refleks dan fundamental (lokomotor,nonlokomotor,manipulatif)PADA MANUSIA

Gerakan refleks adalah gerakan atau tindakan manusia yang timbul sebagai reaksi terhadap suatu stimulus tanpa keterlibatan kesadaran. refleks bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi karena suatu latihan. refleks tak bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi secara otomatis tanpa melalui proses latihan. refleks suprasegmental adalah refleks yang terjadi atas kerja sama pusat otak dengan jaringan syaraf beserta otot-otot anggota badan dantorso untuk menghasilkan gerakan. gerakan lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya perpindahan tempat atau keterampilan yang digunakan memindah-mindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya. keterampilan gerak lokomotor yaitu berjalan, berlari, melompat, hop, skip, slide, dan sebagainya. gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan pelakunya berpindah tempat , seperti menekuk, membongkokan, menarik, mendorong, meregang, memutar, mengayun, memilin, mengangkat, mererntang, merendahkan tubuh, dll. gerakan manipulatif biasanya dilukiskan sebagai gerakan yang mempermainkan objek tertentu sebagai medianya, atau keterampilan yang melibatkan kemampuan seseorang dalam menggunakan bagian-bagian tubuhnya untuk memanipulasi benda yang berada di luar tubuhnya

Thursday, January 20, 2011

sejarah perkembangan olahraga di indonesia pada jaman kemerdekaan

Dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia 17 agustus 1945, gerakan keolahragaan mengalami babak baru.
Tanggal 19 Agustus 1945, tanggal terbentuknya kabinet yang pertama, dalam kementrian Pendidikan Pengajaran diadakan suatu lembaga yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pengurusan di bidang keolahragaan di sekolahan, yaitu inspeksi pendidikan jasmani. Inspeksi Pendidikan Jasmani adalah organisasi di bawah jawatan pengajaran.
Pada bulan september 1945 tentara belanda mendampingi tentara sekutu (inggris) masuk k indonesia terutama jakarta. Pada tanggal 2-3 mei 1948 PORI Mengadakan konperensi di Solo. Berkat bantuan walikota Solo (Syamsurizal), PON I dapat diselenggarakan pada 9-14 September yang merupakan alat revolusi, perjuangan, penyebar semangat, dan persatuan.
Indonesia mengikuti kegiatan olahraga d Asia (Asian Games). Asian games ke I tahun 1951 d New Delhi, Asian Games II tahun 1954 di Manila, Asian Games III d Tokyo tahun 1958 dan seterusnya.
Dengan pembinaan yang terus menerus dan tekun maka Indonesia kemudian dapat juga mengikuti Olympiade ke XVI di Melbourne, tahun 1956, dan Olympiade XVII di Roma pada tahun 1960.
Bendera POM diciptakan oleh sutopo seorang guru yang menjadi siswa Akademi Seni rupa Indonesia (ASRI) yogyakarta dan pada tanggal 20 Desember 1951 lahirlah POM I yang d buka oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saturday, August 28, 2010

Pendidikan Jasmani

Hakikat Pendidikan Jasmani
PJKR-Unnes.Com

Written by Drs. Agus Mahendra, M.A.
Kamis, 25 Januari 2007



Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.

Per definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung.

Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.

Sungguh, pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam ‘pikiran dan tubuh’ yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.


Kesatuan Jiwa dan Raga

Salah satu pertanyaan sulit di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga atau tubuh. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualisme, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior.

Pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno, dengan konsepnya “jiwa yang baik di dalam raga yang baik.” Moto tersebut sering dipertimbangkan sebagai pernyataan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional: aktivitas fisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh; yaitu jiwa, tubuh, dan spirit. Tepatlah ungkapan Zeigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri. Selalu terdapat tujuan pengembangan manusia dalam program pendidikan jasmani.

Akan tetapi, pertanyaan nyata yang harus dikedepankan di sini bukanlah ‘apakah kita percaya terhadap konsep holistik tentang pendidikan jasmani, tetapi, apakah konsep tersebut saat ini bersifat dominan dalam masyarakat kita atau di antara pengemban tugas penjas sendiri?

Dalam masyarakat sendiri, konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme di atas masih kuat berlaku. Bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru penjas sendiri, barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah penjas sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Yang pasti, masih banyak guru penjas yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran penjas di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. Bahkan, dalam kasus Indonesia, penekanan yang berat itu masih dipandang labih baik, karena ironisnya, justru program pendidikan jasmani di kita malahan tidak ditekankan ke mana-mana. Itu karena pandangan yang sudah lebih parah, yang memandang bahwa program penjas dipandang tidak penting sama sekali.

Nilai-nilai yang dikandung penjas untuk mengembangkan manusia utuh menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumber dan disebabkan oleh kenyataan pelaksanaan praktik penjas di lapangan. Teramat banyak kasus atau contoh di mana orang menolak manfaat atau nilai positif dari penjas dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani di lapangan seperti yang dapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita praktikkan (gap antara teori dan praktek) adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani kita.


Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga

Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.

Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.

Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.

Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.

Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.

Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.


Lalu bagaimana dengan rekreasi dan dansa (dance)?

Para ahli memandang bahwa rekreasi adalah aktivitas untuk mengisi waktu senggang. Akan tetapi, rekreasi dapat pula memenuhi salah satu definisi “penggunaan berharga dari waktu luang.” Dalam pandangan itu, aktivitas diseleksi oleh individu sebagai fungsi memperbaharui ulang kondisi fisik dan jiwa, sehingga tidak berarti hanya membuang-buang waktu atau membunuh waktu. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial. Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang.

Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa “mencipta kembali” (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena ‘menjauh’ dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari. Landasan kependidikan dari rekreasi karenanya kini diangkat kembali, sehingga sering diistilahkan dengan pendidikan rekreasi, yang tujuan utamanya adalah mendidik orang dalam bagaimana memanfaatkan waktu senggang mereka.

Sedangkan dansa adalah aktivitas gerak ritmis yang biasanya dilakukan dengan iringan musik, kadang dipandang sebagai sebuah alat ungkap atau ekspresi dari suatu lingkup budaya tertentu, yang pada perkembangannya digunakan untuk hiburan dan memperoleh kesenangan, di samping sebagai alat untuk menjalin komunikasi dan pergaulan, di samping sebagai kegiatan yang menyehatkan.

Di Amerika, dansa menjadi bagian dari program pendidikan jasmani, karena dipandang sebagai alat untuk membina perbendaharaan dan pengalaman gerak anak, di samping untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta pewarisan nilai-nilai. Meskipun menjadi bagian penjas, dansa sendiri masih dianggap sebagai cabang dari seni. Kemungkinan bahwa dansa digunakan dalam penjas terutama karena hasilnya yang mampu mengembangkan orientasi gerak tubuh. Bahkan ditengarai bahwa aspek seni dari dansa dipandang mampu mengurangi kecenderungan penjas agar tidak terlalu berorientasi kompetitif dengan memasukkan unsur estetikanya. Jadi sifatnya untuk melengkapi fungsi dan peranan penjas dalam membentuk manusia yang utuh seperti diungkap di bagian-bagian awal naskah ini.

Tuesday, December 1, 2009

Pengertian Bermain

1. Menurut Singer (dalam Kusantanti, 2004) mengemukakan bahwa bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan.

2. Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain :
a. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak
b. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik
c. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak
d. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak
e. Memilikii hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

3. Menurut Joan Freeman dan Utami Munandar (1996) bermain adalah suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional.

4. Menurut Salamah (2009) bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.

5. Menurut Friederich Wilhelm Froebel (1782-1852) play is what we do when we do whatever we want to do. Bermain adalah bila tidak mengikuti pola rutinitas tertentu dan tidak untuk memenuhi tuntutan orang dewasa.

6. Menurut Hughes ( Children, Play, and Development 1999)
bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja.

7. Menurut Piaget (1951) bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan.

Pengertian olahraga Kesehatan

1. Menurut Rusli lutan (1992:23) Olahraga kesehatan adalah kegiatan fisik yang dilakukan untuk pencapaian derajat sehat yang lebih baik

2. Menurut Arma Abdulah (1994:23) Olahraga kesehatan adalah kegiatan fisik yang bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kondisi jasmani yang baik.

3. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984/1985:47) Olahraga kesehatan adalah aktivitas fisik yang ditujukan untuk kesehatan tubuh semata.

4. Menurut Santosa Giriwijoyo (2001) olahraga kesehatan adalah olahraga untuk memelihara dan atau meningkatkan tingkat kesehatan dinamis maupun statis, tetapi juga sehat serta memiliki kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas sehari-hari yang bersifat rutin maupun keperluan rekreasi dan mengatasi gawat darurat.

5. Menurut Nurlan Kusmaedi (2002:4) olahraga kesehatan adalah olahraga untuk tujuan kesehatan.

6. Olahraga kesehatan adalah aktivitas untuk melatih tubuh seseorang, tidak hanya secara jasmani tetapi juga rohani dan bertujuan untuk mencapai tujuan kesehatan.

diatas merupakan pengertian olahraga kesehatan menurut para ahli yang penulis kumpulkan

Pengertian Olahraga Rekreasi

1. Menurut Kusmaedi (2002:4) Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan untuk tujuan rekreasi.

2. Menurut Haryono (1978:10) Olahraga rekreasi adalah kegiatan fisik yang dilakukan pada waktu senggang berdasarkan keinginan atau kehendak yang timbul karena memberikan kepuasan dan kesenangan.

3. Menurut Herbert Haag (1994) “Recreational sport / leisure time sports are formd of physical activity in leisure under a time perspective. It comprises sport after work, on weekends, in vacations, in retirement, or during periods of (unfortunate) unemployment”.

4. Menurut Nurlan Kusmaedi (2002:4) olahraga rekreasi adalah kegiatan olahraga yang ditujukan untuk rekreasi atau wisata.

5. Menurut Aip Syarifuddin (Belajar Aktif Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SMP, Jakarta, Grasindo.1990) olahraga rekreasi adalah jenis kegiatan olahraga yang dilakukan pada waktu senggang atau waktu-waktu luang.

Pengertian olahraga

1. (Keppres 131 Th1962) Olahraga adalah segala usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan, dan membina kekuatan jasmani dan rohani manusia.

2. (MUSORNAS I) Olahraga adalah segala kegiatan manusia yang wajar yang diperlukan dalam hidupnya sesuai dengan kodratnya.

3. (Abdul Gafur) Olahraga adalah bentuk kegiatan jasmani yang terdapat dalam permainan, perlombaan, dan kegiatan jasmani secara intensif dalam rangka memperoleh rekreasi, kesenangan dan prestasi optimal.

4. (ICSP) Olahraga adalah setiap kegiatan yang mengandung sifat permainan berisi perjuangan diri sendiri atau bersama orang lain atau konfrontasi dengan unsur alam.

5. Menurut ensiklopedia Indonesia, olahraga adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan.

6. Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

7. Menurut Edward (1973) olahraga harus bergerak dari konsep bermain, games, dan sport. Ruang lingkup bermain mempunyai karakteristik antara lain; a. Terpisah dari rutinitas, b. Bebas, c. Tidak produktif, d. Menggunakan peraturan yang tidak baku. Ruang lingkup pada games mempunyai karakteristik; a. ada kompetisi, b. hasil ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, kesempatan. Sedangkan ruang lingkup sport; permainan yang dilembagakan.

8. Menurut Bennet dkk. (1983:3) olahraga (sport) adalah aktivitas jasmani yang dilembagakan yang peraturannya ditetapkan bukan oleh pelakunya atau secara eksternal dan sebelum melakukan aktivitas tersebut.

9. Menurut Coakley (1978) Sport is an institutionalized competitive activity that involves vigorous physical exertion or the use of relatively complex physical skill, by individuals whose participation is motivated by combination of the intrinsic satisfaction associated with the activity it self and the external rewards earned through participation.

10. Menurut Ateng (1993) olahraga terdiri dari dua suku kata, yaitu olah dan raga, yang berarti memasak atau memanipulasi raga dengan tujuan membuat raga mnjadi matang.

11. Menurut Kemal dan Supandi (1990) olahraga adalah suatu permulaan dari dan menimbulkan keinginan orang untuk menghindarkan diri atau melibatkan diri dalam kesenangan.

13. Menurut Harsono (1988) olahraga adalah aktivitas otot besar yang menggunakan energi tertentu untuk meningkatkan kualitas hidup.
14. Olahraga adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. (http://pojokpenjas.wordpress.com)

15. Menurut Arif (07:04) Olahraga adalah aktivitas yang dilakukan dengan kemampuannya sendiri sehingga tidak menimbulkan lelah.

16. Menurut H.Y.S.Santosa Giriwijoyo (2007) olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan gerak.

17. Menurut H.Y.S.Santosa Giriwijoyo (2001) olahraga adalah aktivitas gerak manusia menurut teknik tertentu dalam pelaksanaannya ada unsur bermain, ada rasa senang, dilakukan pada waktu luang, sukarela, kepuasan dalam proses, jika tidak dilaksanakan ada sanksi dan nilai positif.

18. Olahraga adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik mengandung sifat permainan serta berisi perjuangan dengan diri sendiri dengan orang lain atau konfrontasi dengan unsur alam yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kesenangan.

19. Olahraga adalah aktivitas untuk melatih tubuh seseorang, tidak hanya secara jasmani tetapi juga rohani.

pengertian pendidikan jasmani

1. Baley & Field (1976), satu proses pengubahsuaian dan pembelajaran berkenaan organik, neuromaskular, intelektual, sosial, budaya, emosional dan estetik, hasil melalui aktiviti-aktiviti fizikal yang terpilih dan agak rancak,

2. Freeman (1977, 1992) menegaskan bahasa Pendidikan Jasmani meliputi pembangunan fizikal dan mental dan menumpu pada tiga domain pendidikan, iaitu psikomotor, kognitif dan afektif.

3. Barrow (1971, 1983) menyatakan Pendidikan Jasmani dalam konteks ‘pengalaman pendidikan menyeluruh’ dan berkait dengan hal seumur hidup setiap individu.

4. Lumpkin (1990) berpendapat Pendidikan Jasmani merupakan suatu proses yang membolehkan individu mempelajari kemahiran-kemahiran fizikal, mental dan sosial serta tahap kecergasan yang tinggi.

5. (Abdul Gafur, 1983) Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila.

6. Dauer (1995) berpendapat Pendidikan Jasmani ialah sebahagian daripada program pendidikan yang menyeluruh, yang memberi sumbangan pada asasnya melalui pengalaman-pengalaman pergerakan kepada perkembangan dan pembangunan keseluruhan kanak-kanak.

7. Menurut Nash (1948:52) pendidikan jasmani adalah satu fase dari pendidikan keseluruhan dan memberikan sumbangan kepada semua tujuan dari pendidikan.

8. Menurut Bookwalter (1951:12 penjas, sebagai satu proses) pendidikan jasmani adalah satu fase dari pendidikan yang mempunyai kepedulian terhadap penyesuaian dan perkembangan dari individu dan kelompok melalui aktivitas-aktivitas jasmani, terutama tipe aktivitas berunsurkan permainan.

9. Menurut Williams dan Brownell (1951:10) pendidikan jasmani adalah jumlah keseluruhan aktivitas jasmani manusia yang dipilih sesuai dengan macamnya dan dilaksanakan sesuai dengan tujuannya.

10. Menurut Nixon dan Jewett (1980:10) pendidikan jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhannya yang peduli terhadap perkembangan dan penggunaan kemampuan gerak individu yang sifatnya sukarela serta bermakna dan terhadap reaksi yang langsung berhubungan dengan mental, emosional, sosial.

11. Menurut Frost (1975:33) pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan individu melalui media aktivitas jasmani gerak manusia.

12. Menurut UNESCO dalam “International Charter of Physical Education and Sport” (1978) Pendidikan jasmani adalah satu proses pendidikan seseorang sebagai individu atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.

13. Menurut Siedentop (1991) penjas adalah permainan, rekreasi, ketangkasan, olahraga, kompetisi dan aktivitas-aktivitas fisik lainnya, merupakan materi-materi yang terkandung dalam penjas karena diakui mengandung nilai-nilai pendidikan yang hakiki.

14. Menurut DEPDIKNAS (2003) pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perceptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional